Untuk bisa melihat, kita butuh jarak.

Cak Nun dalam Markesot Bertutur

Kalimat ini menjadi salah satu favorit saya diantara banyak hal yang diungkapkan oleh Cak Nun dalam sub bab berjudul Demokrasi Naga. Saya memang belum sempat menamatkan Markesot Bertutur. Tapi saya dapat pastikan bahwa akan lebih banyak keheranan yang akan saya jumpai selama membaca buku yang merupakan kumpulan cerita pendek ini. Saya yakin bahwa sosok Markesot adalah Cak Nun sendiri.

Dalam Demokrasi Pancasila ini, Cak Nun, atau Markesot, bertutur mengenai kritik terhadap ideologi komunis di Cina pada masa revolusi di bawah Deng Xiaoping dan Li Peng. Sedang bangsa Indonesia seharusnya bangga karena memiliki Demokrasi Pancasila yang fleksibel. Namun sayangnya banyak yang tidak diamalkan, atau malah tidak dipedulikan sama sekali.

Pada masa kuliah, saya sempat mengikuti kelas mengenai politik dan pemerintahan Cina, di mana yang banyak dibicarakan adalah menganai ideologi ini dan bagaimana perannya dalam membangun kepribadian dan arah pembangungan bagi bangsa Cina sendiri. Menurut Markesot, Deng salah karena telah menolak demokrasi. Padahal rakyat Cina, terutama golongan pemuda menuntut adanya demokratisasi. Deng dianggap tidak fleksibel dalam menanggapi tuntutan ini, Hasilnya, terjadilah peristiwa besar yang dikenal dengan Tragedi Tiananmen.

Sebagai bekas mahasiswa HI, saya cukup mengerti persoalan ini. dari sisi HAM yang banyak dikabarkan oleh media-media barat, ini jelas salah besar. termasuk kalau dilihat dari perspektif kita. namun, opresi ini justru berhasil menciptakan atmosfir positif, atau negatif ya, yang mampu mengatur perkembangan bangsa Cina hingga sekarang. Bukannya saya setuju dengan model opresi semacam itu. Saya sendiri mendukung yang namanya Demokrasi Pancasila dan penegakan HAM.

Namun, sekarang, mari kita lihat Cina saat ini dengan model pemerintahan yang begitu dan pertumbuhan ekonomi yang seperti itu. sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang dari dulu bicara lantang mengenai Demokrasi Pancasila yang menjadi falsafah hidup bangsa. Ya memang Demokrasi model ini sempat tenggelam selama 32 tahun dalam lingkaran orba. tapi coba lihat sekarang, kita juga tenggelam dengan demokrasi lagi, tentu dalam terminologi yang lain. maksudnya kita sudah terlalu larut dalam euforia mengenai demokrasi itu sendiri. tapi kita lupa kalau demokrasi kita juga dasarnya adalah empati dan mau bagi-bagi.
tapi nyatanya dari segi ekonomi kita tersendat-sendat, soal pembangunan bangsa pun banyak bagian dari kita yang tercecer. Cak Nun bilang, kita sudah terlalu bergelimang dengan Demokrasi Pancasila bahkan tenggelam sepenuhnya. Akhirnya kita tidak punya jarak dengan Demokrasi Pancasila. Padahal untuk bisa melihat, kita butuh jarak.

Ya, itu merupakan permasalahan utama kita saat ini. Demokrasi Pancasila yang harusnya bisa dipraktekkan sebagai patokan untuk berlaku adil terhadap semua elemen masyarakat, telah meresap yang akhirnya diabaikan sama sekali. Demokrasi sekarang jadi demokrasi ngawur yang penting milih, dipilih, terserah nanti yang ngatur gimana asal yang atas senang yang bawah mau diam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s